KAMAYASA DAN POLITIK

Penulis: Ali Faisal (Ketum KAMAYASA tahun 2001)
Editor: Ifhal Kosasih
  
  Kamayasa, bagi saya adalah bagian dari sejarah hidup, bagian dari tahapan-tahapan proses pencarian kebermaknaan, sayapun meyakini bahwa perasaan serupa juga dirasakan oleh ribuan para alumni kamayasa yang saat ini berkiprah dalam multi aktifitas baik yang berdomisili di banten maupun di luar banten, banyak deretan nama alumni kamayasa, yang telah bermetamorfosis siapa telah menjadi apa, inilah barangkali salah satu indikator eksistensi kamayasa yang hari ini berusia 56 tahun, sebuah perjalanan yang semestinya telah kaya akan substansi nilai dan kemajuan, kita patut bersyukur terhadap teh founder father, para pini sepuh kamayasa, yang dahulu kala 56 tahun yang lampau, telah membangun pondasi keakraban, semangat perjuangan dan ghiroh kedaerahan ( dulur selembur/ wong dewek), dalam beberapa manuskrip tentang kamayasa, organisasi ini adalah organisasi mahasiswa banten yang pertama kali didirikan di bandung, menurut cerita anggotanya bukan hanya orang serang seperti saat ini, tetapi dari seluruh mahasiswa banten yang kuliah di bandung, kamayasa telah melewati pasang surut gerakan dan pemikiran, banyak estafet demokrasi yang di kawal oleh kamayasa, termasuk bagaimana kamayasa berperan aktif dalan menyuarakan pembentukan provinsi banten, bahkan setelah menjadi provinsi, artinya adalah bahwa kamayasa termasuk typologi organisasi yang melek akan politik, dan memang semestinya demikian, karena meskipun kamayasa terdiri dari mahasiswa berbagai disiplin ilmu, namun ketertarikan akan politik adalah salah satu variannya, sebagai modal sikap kritis dan aktualisasi idealismenya.

  "Politik berasal dari bahasa Yunani, dari kata Politeae. Terdiri dari kata "Polis", artinya kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri (Negara Kota). "Teae" artinya "Urusan". Dalam bahasa inggris istilah politik mengandung dua pengertian yaitu Politic dan Policy. Politik artinya asas, alat, cara, prinsip untuk mencapai tujuan atau cita-cita tertentu. Policy artinya kebijakan, pertimbangan-pertimbangan untuk lebih menjamin tercapainya tujuan cita-cita tersebut. Dalam pengertian umum politik berarti bermacam - macam kegiatan dalam suatu sistem (negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Secara lebih terperinci Ramlan Surbakti menyimpulkan bahwa ada tiga cara untuk menjelaskan politik. Pertama, mengidentifikasikan kategori-kategori aktivitas yang membentuk politik, dalam hal ini Paul Conn menganggap konflik sebagai esensi politik. Kedua, menyusun suatu rumusan yang dapat merangkum apa saja yang dapat di kategorikan sebagai politik, dalam kaitan ini Harold Laswell merumuskan politik sebagai, "Siapa, mendapat apa, kapan dan bagaimana". Ketiga, menyusun daftar pertanyaan yang harus dijawab untuk memahami politik.

  Apabila ilmu politik dipandang semata-mata sebagai salah satu cabang dari ilmu-ilmu sosial yang memiliki dasar, rangka, fokus dan ruang lingkup yang sudah jelas maka dapat dikatakan bahwa ilmu politik masih muda usianya karena baru lahir pada akhir abad ke-19, dan berbicara masalah perkembangan mengenai ilmu politik jelas bahwa seiring dengan perkembangan zaman maka perkembangan politikpun terus mengalami peningkatan dan terus berkembang, menjadi sebuah dimensi politik sangat luas sekali, dari ketika ibu-ibu ngerumpi yang menghawatirkan harga kebutuhan pokok yang melonjak tinggi jika dalam waktu dekat pemerintah menaikan harga BBM, hingga urusan kekuatan negara.

  Diberbagai dimensi politik yang meliputi multidimensi itu, mahasiswa sejatinya tidak mungkin terlepas dari urusan soal politik. Sadar atau tidak sadar, suka atau tidak suka, mahasiswa akan selalu dilingkupi oleh politik. Interaksi mahasiswa dengan politik biasanya bersifat tiga arah, yaitu: mempengaruhi, dipengaruhi, atau saling mempengaruhi.

  Kita dapat mengambil beberapa contoh bagaimana mahasiswa/ generasi muda selaku Prime Mover terhadap terjadinya perubahan politik di berbagai negara yang pada akhirnya terguling antara lain seperti: Juan Peron di Argentina tahun 1955, Perez Jimenez di Venezuela di Venezuela tahun 1958, Soekarno di Indonesia tahun 1966, Ayub Khan di Pakistan tahun 1969, Reza Pahlevi di Iran tahun 1979, Chun Doo Hwan di Korea Selatan  tahun 1987, Ferdinand Marcos di Filipinan tahun 1985, dan Soeharto di Indonesia tahun 1998. Akan tetapi walaupun sebagian besar peristiwa pergulingan kekuasaan itu bukan menjadi monopoli gerakan mahasiswa, namun gerakan mahasiswa lewat aksi-aksi mereka yang masif politis telah terbukti menjadi katalisator yang sangat penting bagi penciptaan gerakan rakyat dalam menentang kekuasaan tirani.

  Mengapa kekuatan itu, khususnya bagi Indonesia begitu serius dan strategis? Hal ini sangat wajar sekali, sebab secara politik, kaum muda yang dalam Pemilihan Umum disebut dengan Pemilihan Pemula saja jumlahnya sangat signifikan, kalau pada Pemilu 2004 jumlahnya 34%, maka pada Pemilu tahun 2009 mencapai 40% dari total pemilihan yang ada. Maka oleh karenyanya potensi politik kini harus di kelolah oleh anak muda sendiri. Jangan biarkan partai politik mengacak-acak mereka dengan politisasi dan lalu memilih dengan kesadaran semu, seperti misalnya karena "ada beerasnya" dan lain-lain bentuk pragmatis sesaat.

  Kamayasa jangan ragu bicara politik, sebab politik itu bisa baik mana menyusun tata cara dan mekanisme yang membuat masyarakat bisa mendapatkan akses dari penganggaran yang dilakukan bersama-sama antara pemerintah dan legislatif, yang jelas jika bangsa ini ingin menjadi lebih baik, maka anak muda harus banyak terlibat dalam peran politik. Meskipun tidak bisa di pungkiri bahwa belakangan ada fakta secara kasuistik yang berbanding terbalik ketika para politisi muda banyak yang tertimpa kasus politik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH SINGKAT KAMAYASA