ADAPTASI MAHASISWA, DALAM ORGANISASI DAERAH
Penulis : Ifhal Kosasih
Pada
zaman sekarang tidak sedikit mahasiswa menempuh pendidikan diluar daerah, padahal
dalam data Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Indonesia tercatat 2,551
juta perguruan tinggi tersebar di seluruh indonesia. Terlepas banyaknya
perguruan tinggi di indonesia mahasiswa lebih memilih perguruan tinggi yang
terbaik dalam bidangnya, mulai dari; sumber daya manusia (SDM), kegiatan
mahasiswa serta bidang penelitian dan publikasi ilmiah.
Mahasiswa menurut Hartaji adalah seseorang yang
sedang dalam proses menimba ilmu maupun sedang belajar dan terdaftar sedang
menjalani pendidikan pada suatu institut seperti universitas, politeknik maupun
institut pendidikan lainya. Knpfemacher menambahkan, Mahasiswa adalah seseorang
calon sarjana yang dalam keterlibatannya dengan perguruan tinggi yang didik dan
diharapkan untuk menjadi calon-calon yang intelektual.
Mahasiswa baru yang merantau pada dasarnya di
usia yang relatif muda, mahasiswa baru perlu pendampingan pada tahap awal
beradaptasi di lingkungan baru, tidak terkecuali kenalan yang lebih dahulu
tinggal di perantauan. Pada tahap awal kehidupanya di perantauan ia akan
mengalami problem ketidaknyamanan pada lingkungan barunya, perbedaan budaya
menjadi problem utama hidup di perantauan, budaya yang baru dapat menimbulkan
reaksi psikis pada mahasiswa yang berupa kekagetan dalam menerima budaya yang
berbeda. Jean Piaget, menyatakan bahwa proses adaptasi bisa menggunakan metode
asimilasi dan akomodasi, asimilasi terjadi
ketika individu menggabungkan informasi baru ke dalam pengetahuan mereka yang
sudah ada, sedangkan akomodasi, terjadi ketika individu menyesuaikan diri
dengan informasi baru.
Pada hakikatnya, mahasiswa baru tidak usah
takut atau merasa bingung untuk merantau, karena di setiap daerah dalam ruang
lingkup kampus kita sering menemukan semacam perkumpulan atau organisasi
mahasiswa yang me-label-kan daerah.
Adaptasi bisa melalu proses interaksi sosial dari sesama daerah. Budaya yang
sama akan menjadi kenyamanan di perantauan sekaligus menjadi teman perjuangan
untuk mencapai suatu tujuan. Mengingat fungsinya, organisasi daerah adalah
suatu wadah
pemersatu bagi mahasiswa rantau sekaligus menjadi keluarga baru di luar daerah,
di perkumpulan tersebut banyak sekali mahasiswa yang sudah beradaptasi,
sehingga kita bisa belajar ataupun berdiskusi untuk mengenal lebih dalam
tentang daerah tersebut. kita
telah menyadari sebatang lidi nyaris tidak berguna dalam kinerjannya, akan
tetapi jika sebatang lidi bersatu erat dalam satu tali, kotoran apapun bisa
dengan mudahnnya kita hilangkan.
Ironisnya
organisasi daerah kurang di minati oleh kalangan mahasiswa sekarang dan juga
rawannya eksploitasi politik dalam pemilihan daerah, sehingga persepsi seperti
itu menjadi ancaman konflik internal bagi berlangsungnya roda organisasi.
Padahal organisasi daerah mahasiswa bukan menjadi wadah pemersatu mahasiswa
rantau saja, akan tetapi organisasi daerah menjadi alternatif gerakan untuk
menjaga dan mengangkat eksistensi budaya daerahnya. Bahasa, seni, bangunan,
pakaian, makanan, agama dan sampai politik-pun adalah budaya daerah pada
umumnya, kita sebagai duta masyarakat daerah dan penerus daerah harus menjaga
nilai-nilai budaya dalam perkembangan zaman ini, maka dari itu organisasi daerah
menjadi salah satu wadah utama yang harus mahasiswa rantau masuki untuk mengkaji
demi kemajuan daerahnya.
Mahasiswa sendiri mempunyai peran strategis
terhadap pembangunan daerah dan pemberdayaan masyarakat lokal, hal tersebut
tercantum jelas dalam tri dharma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada
masyarakat, dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan yang di peroleh, mahasiswa
harus berkontribusi nyata dalam memajukan kesejahtraan masyarakat dan
mencerdaskan kehidupan bangsa. Besarnya kemampuan dan potensi mahasiswa untuk
pembangunan daerah, mau gimana-pun mahasiswa yang merantau harus kembali pada
daerahnya, sama seperti ibu yang menunggu anaknya membahagiakan ibunya.
Dengan
demikian, mahasiswa yang merantau tidak punya alasan untuk berdiam diri di
daerah orang, ia bisa melihat luas dari kejauhan dan menikam target seperti
elang kelaparan. Organisasi daerah menjadi kekuatan besar dalam mengoptimalkan
keberhasilan pembangunan suatu daerah dan di harapkan peran organisasi daerah
dalam mencetak pemimpin-pemimpin yang berkarakter bisa menyambung roda organisasi
daerah secara cerdas, kreatif dan inovatif.
Sebuah
organisasi mahasiswa daerah seperti Keluarga Mahasiswa Tirtayasa (KAMAYASA), yang
terlahir di Kota Bandung pada 5 Juli 1962 sampai sekarang selalu terfokus dengan
cita-cita rakyat yaitu pembangunan daerah, dan tidak sedikit alumni KAMAYASA berkontribusi
terhadap pembangunan Banten Mandiri, Maju dan Sejahtera “Darussalam”, serta
memiliki daya saing tinggi dengan daerah lain.
Mantap luar biasa wakteum..salam hormat.
BalasHapusMantap luar biasa wakteum..salam hormat.
BalasHapus